Langsung ke konten utama

Hai, apa kabar?

Hai teman-teman, apa kabar?
Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis. Terakhir aku posting tulisan di blog ini tahun 2022 awal. Tentang Harapan. Gak terasa ya, sekarang sudah tahun 2024. Waktu berlalu sangat cepat. Banyak peristiwa manis pahit yang sudah berhasil dilalui. Banyak hal-hal tak terduga, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, terjadi di tahun kemarin. Bisa dibilang, tahun 2023 menjadi tahun yang berat bagi ku. Mungkin dari kalian ada yang merasakan hal yang sama. Banyak sekali yang ingin aku tuliskan dalam blog ini. Enaknya cerita yang mana dulu ya..eemmm..mungkin kita bisa mulai dari cerita yang membuat aku banyak meneteskan air mata karena rasanya sangat berat untuk dilalui.

Kalian masih ingat gak cerita ku yang berjudul senja bersama ayah? atau sudah banyak yang lupa? atau ada yang belum baca? oke, gapapa, bisa dibaca ulang..hehehe. Ceritanya masih ada di blog ini, belum aku hapus. Kalian tahu gak fakta menarik dari cerita bersambung yang belum ada endingnya di senja bersama ayah? aku mau kasih tahu fakta dan rahasia dari cerita itu. Mungkin bukan rahasia ya, barangkali sudah ada yang bisa menebaknya. Yap, cerita Senja Bersama Ayah yang aku tulis pertama kali di blog ini tahun 2017 silam, sebenarnya isi ceritanya terinspirasi dari kisah nyata, yaitu kisah ku. Tidak semuanya sama, tapi aku memang terispirasi dari kisah ku sendiri. Sebenarnya waktu menuliskan cerita ini, aku sudah membuat gambaran plot dan ending ceritanya. Dulu belum sempat aku tuliskan pada blog, hanya aku karang kasar di kepala, ada dalam pikiran, dan sempat beberapa kali aku tulis dalam buku, biar tidak lupa. Tapi entah sekarang ada dimana bukunya. Satu yang pasti, setiap kali aku baca ulang ceritanya, aku masih ingat dengan jelas cerita lanjutan yang aku mau. Kalian tahu endingnya akan seperti apa? waktu itu aku mau buat endingnya jadi sedih. Sad ending. Aku berpikir kalau ending dalam sebuah cerita tidak harus selalu bahagia, dan yang terlintas di pikiranku adalah kesedihan dan kenangan. Tokoh ayah dalam cerita ku, aku gambarkan pergi selamanya dari dunia ini. Intinya, cerita ini berending sedih dan tokoh "Da" dalam cerita ini hanya bisa mengenang kenangannya bersama ayahnya. 

Dulu, aku tidak bermaksud mendoakan atau ingin memiliki cerita dengan ending yang sedih. Aku hanya mengarang cerita yang muncul di kepala ku saja. Tapi di tahun 2023, ternyata ending cerita fiksi yang aku buat, malah menjadi kenyataan. Aku benar-benar tidak menyangka ending yang aku buat dalam kepalaku menjadi kenyataan. Bapak ku meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Sampai sekarang rasa sedih kehilangan masih terus menghantuiku. Akan tetapi aku berusaha untuk kuat dan ikhlas. Aku berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun sulit. Walaupun masih terus menerus menangis saat teringat akan sosok bapak yang 25 tahun ada dalam hidup ku. Ibu ku juga sama sepertiku. Tidak menduga akan secepat ini bapak pergi meninggalkan kami. Hanya tinggal kami berdua saja. Rumah terasa sangat sepi. Yang tersisa hanya kenangan bersama beliau ketika masih hidup di dunia. Andai aku bisa memutar waktu, merubah isi pikiranku, merubah ending dalam ceritaku, apakah cerita dalam kehidupan nyata juga akan sama dengan cerita fiksi yang aku buat? tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memprediksi. Semua terjadi atas kehendak Allah SWT. Sekarang yang bisa dilakukan hanya mendoakan beliau, dan akan terus seperti itu. Bapak selalu abadi dalam kenangan, dalam jiwa, dalam pikiran, selamanya.

Aku berencana melanjutkan ceritaku. Ingin melanjutkan cerita Senja Bersama Ayah. Ingin menuliskan endingnya. Mungkin akan tetap sama seperti ending awal yang aku buat. Cerita ini akan menjadi kenangan untuk ku. Aku ingin mengabadikan kisah ku bersama Almarhum Bapak dalam tulisan. Agar kelak aku masih ingat. Agar kelak jika aku lupa, aku bisa membaca ulang lewat cerita ini. Agar aku bisa mengenang bapak dan bisa membacanya kapan pun dan dimanapun.

Oke baiklah, itu tadi fakta yang ingin aku sampaikan. Curhatan sih lebih tepatnya. Dan tidak berlama-lama lagi, sekian dulu sapaan dari ku. Semoga kamu, aku, dan semuanya, selalu sehat dimanapun berada yaa teman-teman..tetap bahagia dan semangat menjalani kehidupan. Mungkin semua terasa berat, tapi gapapa, kita harus tetap menjalani hidup dengan penuh harapan-harapan baik. Terima kasih sudah menyempatkan membaca cerita ku. Apabila ada masukan atau apapun yang ingin disampaikan kepada ku, silakan saja, kamu bisa menuliskannya pada kolom komentar, atau bisa langsung menyampaikannya pada ku. 

Sampai jumpa di lain waktu..sampai jumpa di cerita-cerita lainnya dariku.



      Salam

pemeluk rindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Enakan

Susah ya jadi orang gak enakan. Mau menolak sesuatu yang tidak diinginkan itu susah sekali. Kata yang paling berat diucapkan adalah kata "Tidak". Kenapa bisa seperti itu? Iya aku juga gak tahu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Rasanya setiap kali ada yang minta bantuan, aku harus membantu. Kalau bilang tidak atau menolak, malah jadi takut menyakiti hati orang lain. Takut dibilang sombong. Takut dibilang egois.  Mau menolak itu rasanya kaya jadi orang terjahat, takut kalau suatu hari balik ke diri sendiri.  Tapi benar, lama-lama jadi sangat toxic. Kita malah tidak memerhatikan diri kita sendiri.  Lupa, kalau diri juga punya  batasan dan kapasitas sendiri .  Lebih  memerhatikan dan menuruti permintaan orang lain, padahal yang paling utama adalah diri sendiri. Kadang jadi egois itu juga perlu. Harus bisa bilang tidak dan gak mau. Harus bisa menolak kalau memang tidak bisa membantu. Jangan menyulitkan diri sendiri. Pastinya orang lain juga akan tahu apa yang k...
Hujan Bulan Juni Oleh Sapardi Djoko Damono Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu