Langsung ke konten utama

Senja Bersama Ayah

       Sore ini, senja berselimut awan. Warna Oranye nya tidak tampak..tertutup awan hitam yang gelap. Hujan turun begitu deras. Tidak ada jas hujan yang bisa aku pakai. Alhasil, aku dan Ayah menerjang ribuan titik air yang turun. Basah kuyup. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 17.15 WIB. Sebentar lagi buka puasa. "Maaf Da, ayah tadi lupa tidak bawa jas hujan." kata ayahku. Suaranya ditelan derasnya hujan. "Iya tidak apa-apa yah." jawabku sedikit berteriak agar bisa didengar Ayahku. "Ini sudah jam berapa?" tanyanya lagi. Sekali lagi aku melirik jam tangan dipergelangan tangan kiriku."Sudah jam 5 lebih 20 yah.". Tanpa bertanya lagi, Ayahku segera mempercepat laju motornya. Jalanan licin, banyak genangan air. Setiap kali ada motor atau mobil yang menyalip, aku terkena cipratan airnya. Sepatu yang ku pakai basah. Telapak kaki juga ikut basah karena airnya merembes masuk kedalam sepatu.  Di sepanjang perjalanan pulang, hanya suasana hening yang terasa. Tidak ada obrolan. Ayahku fokus berkendara. Dari jauh sayup-sayup terdengar suara Adzan. Waktu berbuka sudah tiba. Ayahku tidak menghentikan motornya. Aku sudah tahu, ayah ingin berbuka di rumah. Sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga, buka puasa bersama di rumah. Setiap hari, setiap Ramadhan tiba. 
        Pukul 17.30 kami sampai rumah. Ibu menyambut kami didepan pintu. Aku mengucapkan salam, dan menyalami tangan ibu. Sedangkan Ayahku masih memarkir motor di garasi rumah. Selesai memarkir motor, ayah menyusulku kedalam rumah. Aku segera berganti pakaian. Buka puasa bersama keluarga selalu istimewa. Kebersamannya yang membuat menu berbuka tambah istimewa. "Makannya nanti saja, ayo sholat dulu." Ajak Ayahku. Aku menganggukan kepala, lantas berdiri. Ikut keluar untuk ke kamar mandi mengambil air wudhu. Ayahku selalu menerapkan sholat berjama'ah di rumah setiap maghrib. Beliau selalu mengingatkan akan pentingnya menjaga sholat.

Bersambung...

Nantikan kelanjutannya ya kawan. Jangan lupa kasih saran dan masukannya agar saya bisa membuat cerbung lebih baik lagi.. :)

Komentar

  1. oke di tunggu kelanjutan cerbung nya ya kak maulida , terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai, apa kabar?

Hai teman-teman, apa kabar? Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis. Terakhir aku posting tulisan di blog ini tahun 2022 awal. Tentang Harapan. Gak terasa ya, sekarang sudah tahun 2024. Waktu berlalu sangat cepat. Banyak peristiwa manis pahit yang sudah berhasil dilalui. Banyak hal-hal tak terduga, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, terjadi di tahun kemarin. Bisa dibilang, tahun 2023 menjadi tahun yang berat bagi ku. Mungkin dari kalian ada yang merasakan hal yang sama. Banyak sekali yang ingin aku tuliskan dalam blog ini. Enaknya cerita yang mana dulu ya..eemmm..mungkin kita bisa mulai dari cerita yang membuat aku banyak meneteskan air mata karena rasanya sangat berat untuk dilalui. Kalian masih ingat gak cerita ku yang berjudul senja bersama ayah? atau sudah banyak yang lupa? atau ada yang belum baca? oke, gapapa, bisa dibaca ulang..hehehe. Ceritanya masih ada di blog ini, belum aku hapus. Kalian tahu gak fakta menarik dari cerita bersambung yang belum ada endingnya di senja b...

Gak Enakan

Susah ya jadi orang gak enakan. Mau menolak sesuatu yang tidak diinginkan itu susah sekali. Kata yang paling berat diucapkan adalah kata "Tidak". Kenapa bisa seperti itu? Iya aku juga gak tahu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Rasanya setiap kali ada yang minta bantuan, aku harus membantu. Kalau bilang tidak atau menolak, malah jadi takut menyakiti hati orang lain. Takut dibilang sombong. Takut dibilang egois.  Mau menolak itu rasanya kaya jadi orang terjahat, takut kalau suatu hari balik ke diri sendiri.  Tapi benar, lama-lama jadi sangat toxic. Kita malah tidak memerhatikan diri kita sendiri.  Lupa, kalau diri juga punya  batasan dan kapasitas sendiri .  Lebih  memerhatikan dan menuruti permintaan orang lain, padahal yang paling utama adalah diri sendiri. Kadang jadi egois itu juga perlu. Harus bisa bilang tidak dan gak mau. Harus bisa menolak kalau memang tidak bisa membantu. Jangan menyulitkan diri sendiri. Pastinya orang lain juga akan tahu apa yang k...
Hujan Bulan Juni Oleh Sapardi Djoko Damono Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu