Langsung ke konten utama

Kecewa

Apa yang menyebabkan kita kecewa? Ekspektasi kita yang terlalu tinggi. Kita menganggap semua orang akan memberikan respon sesuai yang kita harapkan dan inginkan. 

Berarti, apakah kita tidak boleh berharap? tentu boleh, tapi kita juga harus bisa menerima jika harapan yang kita inginkan tidak menjadi kenyataan. Ya tinggal ada dua kemungkinan, harapan kita jadi kenyataan, atau malah menjadi kekecewaan. Jika kita mendapat kecewa, iya sudah, tidak apa-apa, memang itu salah satu konsekuensinya. Rasanya tentu sakit sekali dihati, bahkan terkadang sampai membuat kita menangis. Apalagi jika kita terlalu berharap ke manusia. Kalau gak sesuai, kita malah jadi marah, sedih, kecewa dan terkadang malah menyalahkan, mencaci diri sendiri yang menurut kita terlalu bodoh. Harusnya dari awal kita tahu, kita tak dapat mengendalikan maupun menebak isi hati dan pikiran orang lain.

Apapun yang berlebihan, tentu tidak baik. Kita boleh berekspektasi tinggi, tapi jika kecewa yang didapat, kita tak bisa menyalahkan apapun dan siapapun.

Memang yang paling benar berharap sama Tuhan. Tapi, bagaimana jika kita sudah berharap ke Tuhan, tapi tetap kecewa yang didapatkan? tidak apa-apa. Mari terus belajar menerima. Dari rasa kecewa itu kita bisa belajar, bahwa tidak selamanya sesuatu berjalan sesuai yang kita inginkan. Kadang yang menurut kita baik, ternyata tidak baik menurut-Nya, malah yang menurut kita buruk, bisa jadi terbaik menurut-Nya. Tidak apa-apa, sesuatu yang terjadi tentu sudah sesuai kehendak-Nya dan pasti ada hikmahnya. 

Terus kita harus bagaimana? pasrah begitu saja? menerima nasib kita begitu saja? Ya semuanya butuh proses, kita bisa terus intropeksi diri, tetap berbuat baik, dan tetap berharap sesuatu yang baik. Cukup sewajarnya. Sewajarnya saja bergantung dan berekspektasi. Untuk orang atau sesuatu yang membuat kita kecewa, cukup jadikan itu pelajaran untuk hidup yang lebih baik kedepannya. Harus bersyukur, karena hidup adalah sebuah perjalanan yang tidak selamanya mulus. Perlu percaya sama diri sendiri. Oke, kamu tidak selamanya baik-baik saja, tidak pula selamanya kamu bisa menerima keadaan yang kamu jalani saat ini. It's okay, gapapa, kadang ada rasa kecewa maupun rasa senang yang kita rasakan...secara bergantian. 

Semua ada untuk kita terus bertumbuh.


M.N.K






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai, apa kabar?

Hai teman-teman, apa kabar? Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis. Terakhir aku posting tulisan di blog ini tahun 2022 awal. Tentang Harapan. Gak terasa ya, sekarang sudah tahun 2024. Waktu berlalu sangat cepat. Banyak peristiwa manis pahit yang sudah berhasil dilalui. Banyak hal-hal tak terduga, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, terjadi di tahun kemarin. Bisa dibilang, tahun 2023 menjadi tahun yang berat bagi ku. Mungkin dari kalian ada yang merasakan hal yang sama. Banyak sekali yang ingin aku tuliskan dalam blog ini. Enaknya cerita yang mana dulu ya..eemmm..mungkin kita bisa mulai dari cerita yang membuat aku banyak meneteskan air mata karena rasanya sangat berat untuk dilalui. Kalian masih ingat gak cerita ku yang berjudul senja bersama ayah? atau sudah banyak yang lupa? atau ada yang belum baca? oke, gapapa, bisa dibaca ulang..hehehe. Ceritanya masih ada di blog ini, belum aku hapus. Kalian tahu gak fakta menarik dari cerita bersambung yang belum ada endingnya di senja b...

Gak Enakan

Susah ya jadi orang gak enakan. Mau menolak sesuatu yang tidak diinginkan itu susah sekali. Kata yang paling berat diucapkan adalah kata "Tidak". Kenapa bisa seperti itu? Iya aku juga gak tahu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Rasanya setiap kali ada yang minta bantuan, aku harus membantu. Kalau bilang tidak atau menolak, malah jadi takut menyakiti hati orang lain. Takut dibilang sombong. Takut dibilang egois.  Mau menolak itu rasanya kaya jadi orang terjahat, takut kalau suatu hari balik ke diri sendiri.  Tapi benar, lama-lama jadi sangat toxic. Kita malah tidak memerhatikan diri kita sendiri.  Lupa, kalau diri juga punya  batasan dan kapasitas sendiri .  Lebih  memerhatikan dan menuruti permintaan orang lain, padahal yang paling utama adalah diri sendiri. Kadang jadi egois itu juga perlu. Harus bisa bilang tidak dan gak mau. Harus bisa menolak kalau memang tidak bisa membantu. Jangan menyulitkan diri sendiri. Pastinya orang lain juga akan tahu apa yang k...
Hujan Bulan Juni Oleh Sapardi Djoko Damono Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu