Langsung ke konten utama

Masalah Berkuliah Sambil Bekerja (Part 1)

Assalamualaikum teman-teman semua..
Disini saya akan berbagi cerita mengenai apa sih kendala yang saya hadapi ketika harus kuliah dan juga bekerja. Cerita ini sebenarnya saya buat karena ada tugas mata kuliah Bahasa Indonesia..tapi saya ingin share kepada teman-teman semua..Siapa tahu dapat menginspirasi atau bisa jadi pembelajaran untuk kita semua.. dan juga saya ingin menyimpan cerita ini supaya tidak lupa dan tetap menjadi motivasi dalam hidup saya.
Selamat membaca teman-teman..

         “Maulida, lulus SMK nanti kamu mau meneruskan kemana? kuliah atau kerja?”. Dulu, ketika saya berada di kelas 3 SMK, saya sering mendapat pertanyaan seperti itu. Saya tidak punya jawaban pasti dari pertanyaan tersebut karena bagi saya kuliah dan bekerja sama-sama penting dan keduanya ingin saya jalani. Keinginan kuliah dan bekerja sudah saya sampaikan kepada orang tua saya tapi, kedua orang tua saya tidak setuju dengan keinginan saya waktu itu. Mereka menyarankan saya untuk memilih salah satu dari keduannya.  Alasannya, mereka tidak yakin saya bisa membagi waktu jika saya harus kuliah sambil bekerja, apalagi diusia saya yang baru memasuki usia remaja tanggung dimana kondisi emosi masih labil dan bingung dalam mengambil keputusan. Akhirnya, saya setuju dengan saran kedua orang tua dan saya memutuskan untuk memilih kuliah.
        Akan tetapi, nasib berkata lain. Di tahun 2016 saya lulus SMK dan mencoba mendaftar ke Politeknik Negeri Madiun. Berbagai jalur pendaftaran saya lakukan, mulai dari ikut program Bidik Misi, seleksi menggunakan nilai rapor, jalur tes bersama dan juga lewat jalur mandiri, tapi semuannya tidak lolos. Mengetahui saya tidak lolos tes di Poltek Madiun, kedua orang tua saya menyarankan saya untuk mendaftar ke perguruan tinggi lainnya yang masih berada di wilayah karesidenan Madiun. Tapi saya tidak berminat mendaftar ke perguruan tinggi lainnya waktu itu, karena menurut saya perguruan tinggi yang bagus dan berkualitas di wilayah madiun hanya di Poltek tersebut. Pada akhirnya, saya mencoba mencari lowongan pekerja, barangkali ada yang sesuai dengan jurusan saya yaitu Administrasi Perkantoran. Disaat saya mencari lowongan pekerjaan, disaat itu juga dibuka rekrumen pegawai Fresh Graduate di PT Industri Kereta Api (Persero) atau lebih dikenal dengan PT INKA Madiun. Saya mencoba mendaftar sesuai bidang kemampuan yang saya miliki dan yang dibutuhkan oleh PT INKA. Alhamdulillah, setelah melewati serangkaian tes, saya diterima bekerja di PT INKA sebagai pegawai PKWT (Perjanjian Kerja Waktu -Tertentu). Saya mengubur mimpi saya untuk bisa kuliah dan memilih fokus bekerja dan mengembangkan karir di PT INKA.
      Awal masuk PT INKA sampai saat ini, saya ditempatkan di Unit Diklat Divisi Human Capital sebagai tenaga administrator. Di bagian diklat ini, setiap harinya saya menyiapkan keperluan untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan tersebut, mulai dari membuat undangan untuk para peserta, mendistribusikan undangan, menyiapkan tempat dan konsumsi, dokumentasi serta melakukan kegiatan administrasi lainnya yang berhubungan dengan dokumen sebelum maupun sesudah pelatihan dilaksanakan. Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru setiap mengikuti berbagai macam acara pelatihan. Saat saya menjadi panitia dalam suatu acara pelatihan, saya dituntut untuk dapat bekerja secara cepat, tepat, dan tanggap dalam menghadapi permasalah atau trouble yang tiba-tiba muncul ketika acara sedang berlangsung. Disini saya belajar bagaimana cara melayani tamu dengan baik, menangani komplain dari pegawai lain, serta menghadapi berbagai macam karakter pegawai yang bekerja di INKA.
         Banyak ilmu yang saya dapatkan selama di Unit Diklat Divisi Human Capital PT INKA. Saya menyadari bahwa kemampuan dan ilmu saya harus terus berkembang seiring perkembangan zaman, agar dapat bersaing di era global. Kesempatan jenjang karir di PT INKA terbuka lebar. Banyak karyawan muda yang bekerja di PT INKA, melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Saya mulai berpikir kembali tentang keinginan saya untuk kuliah. Akhirnya, di tahun 2018 saya mengajukan izin kepada atasan saya untuk melanjutkan sekolah. Beliau menyetujui dan mendukung keinginan saya untuk memperkaya ilmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai, apa kabar?

Hai teman-teman, apa kabar? Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis. Terakhir aku posting tulisan di blog ini tahun 2022 awal. Tentang Harapan. Gak terasa ya, sekarang sudah tahun 2024. Waktu berlalu sangat cepat. Banyak peristiwa manis pahit yang sudah berhasil dilalui. Banyak hal-hal tak terduga, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, terjadi di tahun kemarin. Bisa dibilang, tahun 2023 menjadi tahun yang berat bagi ku. Mungkin dari kalian ada yang merasakan hal yang sama. Banyak sekali yang ingin aku tuliskan dalam blog ini. Enaknya cerita yang mana dulu ya..eemmm..mungkin kita bisa mulai dari cerita yang membuat aku banyak meneteskan air mata karena rasanya sangat berat untuk dilalui. Kalian masih ingat gak cerita ku yang berjudul senja bersama ayah? atau sudah banyak yang lupa? atau ada yang belum baca? oke, gapapa, bisa dibaca ulang..hehehe. Ceritanya masih ada di blog ini, belum aku hapus. Kalian tahu gak fakta menarik dari cerita bersambung yang belum ada endingnya di senja b...

Gak Enakan

Susah ya jadi orang gak enakan. Mau menolak sesuatu yang tidak diinginkan itu susah sekali. Kata yang paling berat diucapkan adalah kata "Tidak". Kenapa bisa seperti itu? Iya aku juga gak tahu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Rasanya setiap kali ada yang minta bantuan, aku harus membantu. Kalau bilang tidak atau menolak, malah jadi takut menyakiti hati orang lain. Takut dibilang sombong. Takut dibilang egois.  Mau menolak itu rasanya kaya jadi orang terjahat, takut kalau suatu hari balik ke diri sendiri.  Tapi benar, lama-lama jadi sangat toxic. Kita malah tidak memerhatikan diri kita sendiri.  Lupa, kalau diri juga punya  batasan dan kapasitas sendiri .  Lebih  memerhatikan dan menuruti permintaan orang lain, padahal yang paling utama adalah diri sendiri. Kadang jadi egois itu juga perlu. Harus bisa bilang tidak dan gak mau. Harus bisa menolak kalau memang tidak bisa membantu. Jangan menyulitkan diri sendiri. Pastinya orang lain juga akan tahu apa yang k...
Hujan Bulan Juni Oleh Sapardi Djoko Damono Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu